
Pernah mendengar gunung Tambora di Sumbawa, berikut sedikit cerita tentang kedahsyatan Gunung Tambora.
Letusan Dahsyat Gunung Krakatau Dan Gunung Tambora
Maut, kehancuran harta benda, kemusnahan panen dan kelaparan adalah
impact seketika dari dua letusan gunung api itu, namun rangkaian yang
mengikutinya bukan saja keganjilan cuaca atau redupnya sinar surya, tapi
juga perubahan kekuatan geo-politik lokal dan global.
Di Sumbawa kengerian tiada terkira, 48.000 orang menemui ajalnya
sementara 36.275 lainnya mengungsi ke luar pulau. Erupsi Tambora
menyusutkan populasi Sumbawa sampai 85.000 jiwa. Keadaan politik
setempat berubah oleh lenyapnya dua kerajaan,Pekat dan Tambora. Menurut
sebuah naskah asli, ” kapal boleh berlabuh di mana bekas negeri Tambora
adanya”.
Namun gambaran ini cuma bersumber dari buku harian, naskah asli dan
jurnal cuaca. Belum ada penelitian meteorologi dan teknologi komunikasi
canggih seperti jaman sekarang. Belakangan baru orang bisa mempertautkan
letusan Tambora di Indonesia pertengahan April – sampai pertengahan
Juli 1815 itu dan dampak yang diciptakannya di tempat tempat lain di
dunia.
Gara gara Tambora, dunia mengenang tahun 1816 sebagai ” tahun tanpa
musim panas”. Di Eropa Barat, Amerika dan Kanada berembus udara beku
(frosts) yang mematikan. . Debu pasir vulkanis yang disemburnya
menyelimuti permukaan laut, dan abu pekat yang gentayangan sepanjang
setahun berikutnya menutup sinar matahari.
Pola cuaca yang jungkir balik terjadi di hampir seantero belahan utara
Bumi. Salju turun di New England, AS, pada bulan Juni, dan frost July –
Agustus, membuat paceklik (yang bukan oleh kemarau).
Udara beku juga mematikan tanaman pangan di Eropa dan Kanada,
menyebabkan kekurangan makanan. Kerusuhan yang disebabkan oleh rebutan
jatah makanan meledak di Perancis dan Swiss. Di Irlandia, curah hujan
dingin terjadi hampir sepanjang musim panas itu, dan di sana 65.000
orang mati oleh kelaparan dan tipus. Wabah kholera dan tipus yang
menyebar ke wilayah wilayah Eropa, membunuh 200.000 orang.
Tambora meledakkan katupnya 12 April, yang paling mengerikan dari hari
hari puncak letusan 10 – 15 April. Para ahli menyebutkan letusan ini
sebagai yang terbesar sepanjang 10.000 tahun.
Krakatau meletus 26 Agustus 1883 yang seperti juga Tambora, diantar oleh
serentetan ledakan yang terjadi dalam beberapa bulan sebelumnya. Tiga
kali puncak ledakan yang terjadi di pagi hari 26 Agustus itu terdengar
gaungnya sampai sejauh Alice Springs, Australia (3500 Km), Filipina,
Madagaskar dan pulau pulau sejauh 4800 Km di Pasifik. Daya ledaknya
ditaksir sampai 21.547,6 kali bom atom. Suara ledakan Krakatau terkeras
sepanjang sejarah tertulis (kendati dipercaya suara ledakan Tambora 1815
pasti lebih keras).
Gelombang tsunami yang ditimbulkannya seketika menyapu kota kota pantai
di Jawa dan Sumatra, yang menimbulkan 36.417 orang tewas. Keseluruhan
korban jiwa akibat terjangan gelombang raksasa mencapai lebih 100 ribu.
Ada dokumen yang menyebutkan penemuan seonggok mayat di ” rakit” batu
apung yang terdampar ke pantai Afrika setahun kemudian. Letusan Krakatau
pun ” bertanggungjawab” atas iklim global. Dunia sempat gelap dua
setengah hari dan karena lapisan atas atmosfir masih dilekati lapisan
abu vulkanis, matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Debu
yang mengawan nampak di langit Norwegia.
Lihatlah kawah Gunung Tambora di atas, Kalau menghitung dari peta
topografi, diameter kawah sekitar 6 km. Dinding-dinding terjalnya,
menjulang tinggi hingga lebih dari 1.000 m.
Dataran luas terhampar di dasar kawah. Inilah sisa letusan tahun 1815.
Bisa dibayangkan betapa dahsyat letusan kala itu. Ahli geologi
memperkirakan bahwa volume puncak yang hilang karena pembentukan kawah
ini sebesar 30 km3. Mungkin tepat di atas tengah kawah inilah dulunya
puncak 4.000 m berada.
Wah hebat banget ya, luas kawahnya hampir seluas satu kecamatan.
Gunung kakatau memang sering mengundang kontroversi karena letusannya
ditahun 1883. Letusan ini merubah bentuk gunung yang sebelumnya berupa
kerucut menjadi anak-anak krakatau yang jauh lebih kecil.
Krakatau - Lebih Hebat dari Bom Atom !!
Taken from August 1982 edition of Intisari Magazine
http://www.intisari-online.com
Tanggal 27 Agustus 2009 akan genap seratus duapuluh enam tahun letusan
dahsyat Krakatau yang sempat menggoncangkan seluruh dunia. Pada tanggal
27 Agustus 1883, bertepatan dengan hari Minggu, dentuman pada pukul
10.02 terdengar di seluruh wilayah Nusantara, bahkan sampai ke
Singapura, Australia, Filipina, dan Jepang. Bencana yang merupakan salah
satu letusan terhebat di dunia itu sempat merenggut sekitar 36.500 jiwa
manusia.
Kegiatan dimulai dengan letusan pada tanggal 20 Mei 1883, waktu kawah
Perbuatan memuntahkan abu gunung api dan uap air sampai ketinggian 11 km
ke udara. Letusan ini walaupun terdengar sampai lebih dari 350 km
(sampai Palembang), tidak sampai menimbulkan korban jiwa.
Pada letusan tanggal 27 Agustus itu bebatuan disemburkan setinggi 55.000
m dan gelombang pasang (Tsunami) yang ditimbulkan menyapu bersih 163
desa. Abunya mencapai jarak 5.330 km sepuluh hari kemudian. Kekuatan
ledakan Krakatau ini diperkirakan 26 kali lebih besar dari ledakan bom
hidrogen terkuat dalam percobaan.
Dikira Meriam Apel
Seorang pengamat di rumahnya di Bogor, pada tanggal 26 Agustus pukul
satu siang mendengar suara gemuruh yang tadinya dikira suara guntur di
tempat jauh. Lewat pukul setengah tiga siang mulai terdengar letupan
pendek, sehingga ia mulai yakin bahwa kegaduhan itu berasal dari
kegiatan Krakatau, lebih-lebih sebab suara berasal dari arah barat
laut-barat. Di Batavia gemuruh itu juga dapat didengar, demikian pula di
Anyer. Di serang dan Bandung suara-suara itu mulai terdengar pukul
tiga.
Seorang bintara Belanda yang ditempatkan di Batavia mengisahkan
pengalaman pribadinya. Seperti banyak orang lainnya ia mengira bahwa
dunia akan kiamat saat itu.
“Tanggal 26 Agustus itu bertepatan dengan hari Minggu. Sebagai sersan
pada batalyon ke-IX di Weltevreden (Jakarta Pusat) hari itu saya
diperintahkan bertugas di penjagaan utama di Lapangan Singa. Cuaca
terasa sangat menekan. Langit pekat berawan mendung. Waktu hujan mulai
menghambur, saya terheran-heran bahwa di samping air juga jatuh
butiran-butiran es.”
“Sekitar pukul dua siang terdengar suara gemuruh dari arah barat.
Tampaknya seperti ada badai hujan, tetapi diselingi dengan
letupan-letupan, sehingga orangpun tahu bahwa itu bukan badai halilintar
biasa.”
“Di meja redaksi koran Java Bode orang segera ingat pada gunung Krakatau
yang sudah sejak beberapa bulan menunjukkan kegiatan setelah
beristirahat selama dua abad. Mereka mengirim kawat kepada koresponden
di Anyer, sebuah pelabuhan kecil di tepi Selat Sunda, tempat orang bisa
menatap sosok Krakatau dengan jelas pada cuaca cerah. Jawabnya tiba
dengan cepat: ‘Di sini begitu gelap, sampai tak bisa melihat tangan
sendiri.’ Inilah berita terakhir yang dikirimkan dari Anyer…”
“Pukul lima sore gemuruh itu makin menghebat, tapi tidak terlihat kilat.
Letusan susul-menyusul lebih kerap, seperti tembakan meriam berat. Dari
Lapangan Raja (Merdeka, Red.) dan Lapangan Singa (Banteng) terlihat
kilatan-kilatan seperti halilintar di ufuk barat, bukan dari atas ke
bawah, tetapi dari bawah ke atas. Waktu hari berangsur gelap, di kaki
langit sebelah barat masih terlihat pijaran cahaya.”
“Sudah menjadi kebiasaan bahwa tiap hari pukul delapan tepat di benteng
(Frederik Hendrik, sekarang Mesjid Istiqlal) ditembakkan meriam sebagai
isyarat upacara, disusul dengan bunyi terompet yang mewajibkan semua
prajurit masuk tangsi. Para penabuh genderang dan peniup terompet
batalyon itu sudah siap pada pukul delapan kurang seperempat. Mereka
masih merokok santai sebelum mereka berbaris untuk memberikan isyarat
itu. Tiba-tiba terdengar tembakan meriam menggelegar, jauh lebih dini
daripada biasanya. Mereka segera berkumpul membentuk barisan dan setelah
terompet dibunyikan, mereka berbaris sambil membunyikan genderang dan
meniup terompet. Baru saja
mereka mencapai asrama ketika meriam yang sebenarnya menggelegar dari dalam benteng. Gunung Krakatau ternyata mengecoh mereka!”
Batavia Jadi Dingin
“Sementara itu ‘penembakan’ berlangsung terus. Kadang-kadang bunyinya
seperti tembakan salvo beruntun, kilatan-kilatan menyambar-nyambar ke
langit. Semua orang tercekam ketakutan. Tiada seorangpun percaya bahwa
ada badai mengamuk jauh di sana.
Hampir tidak ada orang yang berani tidur malam itu. Banyak yang
berkumpul di halaman rumah mereka sambil mengarahkan pandangan mereka ke
arah barat dan memperbincangkan kemungkinan-kemungkinan yang
menyebabkan gejala alam yang aneh itu. Hanya anak negeri yang tak
ragu-ragu: ‘Ada gunung pecah,’ kata mereka.”
“Menjelang tengah malam tiba perwira piket, Letnan Koehler. Ia
mengatakan kepada saya bahwa seluruh kota sedang dalam keadaan panik.
Penduduk asli berkumpul di masijid-masjid untuk bersembahyang. Penduduk
Belanda tetap terjaga di rumah masing-masing atau pergi ke rumah bola
Concordia atau Harmonie untuk saling mencari dukungan dari sesamanya.”
“Menjelang pukul dua pagi rentetan letusan bak tembakan cepat artileri
itu mencapai puncaknya. Rumah-rumah batu bergetar dan jendela-jendela
bergemerincing. Gelas lampu penerangan jalan jatuh dan bertebaran di
tanah, kaca etalase toko pecah, penerangan gas di banyak rumah padam.
Sesudah itu ledakan-ledakan mereda, namun dari arah barat masih terdegar
suara gemuruh.”
“Kemudian saya merasakan bahwa udara makin menjadi dingin. Dalam
beberapa jam saja suhu udara telah menurun sedemikian rupa, sampai saya
gemetar kedinginan di pos jaga. Belum pernah di Batavia udara sedingin
itu. Waktu saya melihat keluar ternyata seluruh kota diliputi oleh kabut
tebal. Penerangan jalan di seberang Lapangan Singa tak dapat saya lihat
lagi,meskipun saya mendengar dari rekan lain bahwa lampu-lampu masih
menyala. Tak lama kemudian ternyata kabut itu bukan kabut biasa,
melainkan hujan abu, yang jatuh tak lama setelah lewat tengah malam -
mula-mula jarang-jarang, tetapi makin lama makin deras, sehingga
segalanya terselimuti oleh kabut abu yang tebal.”
“Pada pukul enam pagi, sesuai peraturan, semua lampu harus dipadamkan,
tetapi matahari tidak terbit! Baru sekitar pukul tujuh nampaknya fajar
seperti akan menyingsing, tetapi hari itu tak akan menjadi terang. Hawa
makin menjadi dingin, sehingga saya memerintahkan anak buah saya untuk
mengenakan jas hujan mereka. Sementara itu abu turun dengan tiada
putus-putusnya. Abu itu ke mana-mana, bangsal jaga juga dilapisi oleh
serbuk halus yang berwarna kelabu keputih-putihan. Prajurit jaga yang
saya lihat dari jendela sedang mondar-mandir, nampak seperti boneka
salju kelabu yang bergerak secara mekanis.”
“Sekitar pukul sembilan pagi ledakan-ledakan dan guruh makin bertambah.
Pada pukul sepuluh hari gelap seperti malam. Lampu-lampu gas dinyalakan
kembali. Lapisan abu setebal 15 mm menutupi segala yang ada. Jalan-jalan
sunyi senyap, tak ada yang berani menampakkan diri. Saya merasa seorang
diri di dunia, di dunia yang tak lama lagi bakal runtuh!”
“Pada pukul 10.40 akhirnya tiba telegram dari Serang, yang isinya memuat
sedikit keterangan mengenai penyebab gejala-gejala alam yang mengerikan
itu. Kawat itu berbunyi: ‘Kemarin petang Krakatau bekerja. Bisa
didengarkan di sini. Semalam suntuk cahayanya terlihat jelas. Sejak
pukul sebelas ledakan-ledakan makin hebat dan tak terputus-putus.
Setelah hujan abu deras pagi ini matahari tak tampak, gelapnya seperti
pukul setengah tujuh malam. Merak dimusnahkan gelombang pasang. Sekarang
di sini sedang hujan kerikil. Tanpa payung kuat tak ada yang berani
keluar.’”
“Lewat pukul duabelas, ketika di Batavia masih gelap gulita dan sangat
dingin, tersiar berita kawat dari pelabuhan Pasar Ikan dan Tanjung
Priok. Sebuah gelombang pasang telah membanjiri kota bagian bawah.
Permukaan air dua meter di atas garis garis normal. Kapal uap Prinses
Wilhelmina dicampakkan ke pangkalan, seperti juga kapal Tjiliwoeng yang
cerobong asapnya merusak atap kantor pabean. Sejumlah kapal motor dan
perahu terdampar acak-acakan di Pelabuhan Pasar Ikan, berlumuran lumpur
dan abu tebal. Pengungsi mulai mengalir sepanjang jalan raya dengan
membawa harta benda yang bisa dijinjing ke arah Weltevreden yang lebih
tinggi letaknya. Pada pukul dua dan empat sore datang lagi gelombang
pasang, tetapi kali ini kurang tinggi dibandingkan yang pertama.”
“Di sebelah barat kini menjadi tenang dan kelam makin berkurang,
sehingga matahari mulai nampak sebagai bercak merah kotor pada langit
yang kelabu.”
“Pada pukul lima petang saya diganti dan menerima perintah untuk segera
menyiapkan suatu pasukan yang akan diberangkatkana ke daerah yang
terkena musibah di Sumatra Selatan. Pada saat itu di Batavia tidak
seorangpun tahu dengan tepat apa yang sebenarnya terjadi di sebelah
barat. Semua hubungan telegram dengan daerah yang terlanda malapetaka
terputus.”
Serang Sunyi Mencekam
Kalau di Jakarta, air pasang itu tak mengambil korban terlalu besar,
tapi di daerah pantai sebelah barat Jawa Barat yang lebih dekat dengan
gunung yang sedang murka itu, akibatnya sangat mengerikan. Di Tangerang,
pantai utaranya digenangi sampai sejauh satu hingga satu setengah km
dengan meminta korban manusia cukup besar. Sembilan buah desa pantai
musnah. Korban di daerah ini tercatat 1.794 orang penduduk asli dan 546
Cina dan Timur Asing lainnya.
Di Serang suara gemuruh mulai terdengar pada pukul 3 siang, hari Minggu.
Malamnya terus-menerus tercium bau belerang dan guruh serta kilat
terlihat dari arah Krakatau. Hari Seninnya langit di sebelah barat
berwarna kelabu, lalu hujan abu turun tanpa hentinya. Pukul setengah
sebelas hari mulai kelam, dan makin menggelap, sehingga hampir tak
terlihat apa-apa. Lewatpukul sebelas datang kawat dari Serang bahwa
telah terjadi hujan kerikil batu apung; tak lama kemudian hubungan
telegram dengan Jakarta terputus. Setelah hujan kerikil menyusul hujan
lumpur, yakni abu basah yang melekat pada daun-daun dan dahan-dahan
pohon sehingga kadang-kadang runtuh karena beratnya. Sekitar pukul 12
hujan lumpur ini berhenti, tetapi abu kering tetap turun.
Anehnya, selama itu di Serang tak terdengar letusan-letusan, bahkan
suasana sangat sepi mencekam, yang membuat banyak orang makin gugup dan
tertekan. Hewan peliharaan juga makin gelisah, mereka ingin sedekat
mungkin dengan manusia di dalam rumah, di dekat lampu. Dengan kekerasan
sekalipun hewan-hewan itu tak berhasil diusir. Setelah pukul dua siang
langit mulai terlihat agak terang di sebelah timur, ayam-ayam jantan
mulai berkokok. Suara gemuruh mulai terdengar lagi, sedang hujan abu
turun terus-menerus dan bau abu belerang menusuk hidung. Pada pukul
empat sore lampu-lampu masih dinyalakan.
Surat-surat kabar yang terbit di Batavia tertanggal 28, 31 Agustus, dan 4
September penuh dengan berita-berita tentang malapetaka yang menimpa
daerah Banten. Tetapi jarang sekali ada kisah dari saksi mata, sebab
tempat-tempat yang letaknya di tepi pantai seperti Merak, Anyer, dan
Caringin, hancur luluh dan hanya ada beberapa orang Belanda yang
melarikan diri dan tertolong pada saat yang tepat.
Ketika Siuman Semua Gelap
Di Merak seorang pemegang buku pada perusahaan pelabuhan bernama E.
Pechler merupakan satu-satunya orang Belanda yang lolos. Ia sedang
bertugas membawa telegram atasannya untuk dikirimkan ke Batavia lewat
Serang. Berita ini mungkin yang terakhir dikirimkan dari Merak. Isinya
laporan kepada Kepala Jawatan Pelabuhan di Betawi, yang menyebutkan
bahwa pada hari Minggu tanggal 26 Agustus dan keesokan harinya, sebagian
Merak yang lebih rendah letaknya, Pecinan, jalan kereta api,
tergenangi; jembatan berlabuh dan teluk tempat pengambilan batu untuk
pelabuhan rusak; jembatan dan derek-derek masih di tempat saat itu,
tetapi gerbong-gerbong sudah masuk laut.
Sekitar pukul sembilan pagi Pechler berada di kaki sebuah bukit di luar
Merak. Tiba-tiba ia ditimpa hujan lumpur dan badai. Ia melihat gelombang
air mendekat, sehingga ia lari tunggang-langgang ke atas sebuah bukit,
tapi sebelum ia mencapai puncaknya, ia sudah terkejar air pasang. Apa
yang terjadi setelah itu ia tak tahu lagi…
Keesokan harinya ia baru siuman kembali. Tempat sekitarnya sudah kering,
tetapi ia tak dapat mengenali sekelilingnya karena sangat gelap.
Pada hari Selasa ia baru bisa berjalan kembali ke Merak. Di tengah jalan
ia melihat sebuah lokomotif yang rusak parah, sekitar 500 m dari tempat
berhentinya. Di Merak ia tidak menemukan apa-apa lagi. Bahkan mayat pun
tak dijumpainya� semuanya telah dihanyutkan ke laut. Di antara petugas
pemerintah di Merak hanya Pechler dan seorang insinyur bernama
Nieuwenhuis yang selamat, karena sedang berpergian ke Batavia. Waktu
insinyur itu kembali ke Merak, rumahnya yang dibangun di atas bukit
setinggi 14 m hanya tinggal lantainya saja.
Hujan Deras Batu Apung di Teluk Betung
Anyer dilanda gelombang pasang pada Senin pagi, tanggal 27, sekitar
pukul sepuluh pagi. Gelombang ini menyapu bersih pemukiman di tepi
pantai itu, sehingga yang tinggal hanyalah benteng, penjara, kediaman
Patih dan Wedana. Dataran sekitar Anyer, yang di belakang tempat itu
lebarnya kurang lebih 1 km seakan-akan dicukur gundul; di dekat pantai
bongkahan-bongkahan karang dilemparkan ke darat.
Caringin yang berpenduduk padat juga hancur luluh; letaknya di dataran
yang lebarnya sekitar 1.500 m, disusul oleh bukit-bukit 50m, tempat
sejumlah kecil penduduknya menyelamatkan diri.
Bukan hanya di darat, tetapi di laut lepas Krakatau juga meneror
kapal-kapal yang kebetulan berlayar di dekatnya. Penumpang kapal yang
melayari Selat Sunda pada hari naas itu tidak dapat melupakan pengalaman dan ketakutan mereka selama hidupnya.
Kapal api Gouverneur Generaal Loudon, dengan nakhoda Lindeman, sebuah
kapal Nederland Indische Stoomvaartsmaatschappij (pendahulu KPM)
berlayar dari Batavia ke Padang dan Aceh dengan menyinggahi Teluk
Betung, Krui, dan Bengkulu. Kapal itu berangkat pada tanggal 26 Agustus
pagi hari dari Jakarta. Seorang penumpang kapal itu mengisahkan
pengalamannya sebagai berikut:
“Cuaca pagi itu sangat cerah. Siang harinya kami berlabuh di Anyer,
sebuah pelabuhan kecil di pantai Banten. Beberapa orang pekerja kasar
naik dari pelabuhan ini. Kapal kemudian melanjutkan pelayarannya ke arah
Teluk Lampung, melewati Pulau Sangiang dan Tanjung Tua. Di sebelah kiri
kapal kami lihat Pulau Rakata dari kejauhan, yang kami singgahi dua
bulan yang lalu.”
“Waktu Gunung Krakatau mulai bekerja bulan Mei yang lalu, setelah dua
abad beristirahat, perusahaan pemilik kapal Loudon mengadakan suatu tour
pariwisata bagi penduduk Batavia. Dengan membayar dua puluh lima gulden
kita bisa berlayar ke Pulau Krakatau. Pada waktu itu masih mungkin
untuk mendarat ke pulau, bahkan mendaki kawahnya yang mengeluarkan uap
putih.”
“Sekarang gunung berapi itu nampaknya jauh lebih gawat. Asap hitam pekat
membubung dari kawahnya ke langit biru dan hujan abu halus turun di
geladak kapal…”
“Pada pukul 7 petang kami berlabuh di Teluk Betung. Hari amat cepat
menjadi gelap, sedang lautpun agaknya makin berombak dan hujan abu makin
deras. Kapal Loudon memberi isyarat ke darat agar dikirimi sekoci bagi
penumpang yang akan mendarat, tetapi tidak ada jawaban apa-apa. Lalu
kapten memerintahkan agar sekoci kapal diturunkan, tetapi gelombang
besar tak memungkinkan untuk mencapai darat, sehingga sekoci itu harus
kembali lagi.”
“Lampu pelabuhan menyala seperti biasa, tetapi tampaknya ada
kejadian-kejadian luar biasa di Teluk Betung. Sekali-sekali terlihat
tanda
bahaya dari kapal-kapal lain dan terdengar suara kentongan bertalu-talu.
Penerangan kota dipadamkan. Sementara itu hujan abu kini berubah
menjadi hujan batu apung yang deras…”
Menara Suar Patah Seperti Batang Korek Api
“Dengan rasa kurang enak kami melewatkan malam itu. Air laut makin liar
dan ombak-ombak besar mendera lambung kapal tanpa hentinya. Ketika fajar
menyingsing kami melihat bahwa Teluk Betung menderita kerusakan cukup
parah oleh gelombang pasang. Kapal api pemerintah Barouw, terlepas dari
jangkarnya dan dihempaskan ke darat. Gudang-gudang dan gedung-gedung
pelabuhan lain rusak. Tetapi tak tampak tanda-anda kehidupan di kota
kecil itu…”
“Pukul tujuh pagi tiba-tiba kami melihat dinding air melaju ke arah
kapal kami. Loudon sempat melakukan manouvre untuk menghindar, sehingga
gelombang itu mengenai sejajar dengan sisi kapal. Kapal itu menukik
hebat, tetapi pada saat bersamaan gelombang itu telah lewat dan Loudon
selamat. Kami sempat melihat betapa air pasang itu mendekati, lalu
melanda kota Teluk Betung dengan tenaga tak terbendung…”
“Tak lama kemudian masih ada tiga gelombang dahsyat yang menghambur,
yang di hadapan mata kami memporak-porandakan segala apa yang ada di
pantai. Kami melihat bagaimana menara suar patah seperti batang korek
api dan rumah-rumah lenyap digilas gelombang. Kapal Barouw terangkat,
kemudian dicampakkan ke darat melewati puncak-puncak pohon nyiur. Yang
tadinya Teluk Betung kini hanya air belaka…”
“Di kota itu tentunya ada ribuan orang yang meninggal serentak dan
kotanya sendiri seperti dihapuskan dari muka bumi. Semua itu terjadi
dengan cepat dan mendadak, sehingga melintas sebelum kita sempat
menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Seakan-akan dengan satu gerakan
maha kuat dekor latar belakang sebuah sandiwara telah digantikan…”
“Akhirnya Kapten Lindeman memutuskan untuk meninggalkan teluk itu,
karena ia beranggapan bahwa keadaannya cukup berbahaya. Kapal menuju ke
Anyer dengan tujuan untuk melaporkan malapetaka yang menimpa Teluk
Betung. Tak lama kemudian kapal sudah berlayar di laut lepas. Walaupun
hari masih pagi, cuaca makin menggelap, dan menjelang pukul sepuluh
sudah gelap seperti malam. Kegelapan itu bertahan selama delapan belas
jam dan selama itu turun hujan lumpur yang menutupi geladak sampai
hampir setengah meter.”
“Di ruang kemudi nakhoda melihat bahwa kompas menunjukkan
gerakan-gerakan yang paling aneh; di laut terjadi arus-arus kuat, yang
selalu berubah arahnya. Udara dicemari oleh gas belerang pekat yang
membuat orang sulit bernapas dan beberapa penumpang menderita telinga
berdesing. Barometer menunjukkan tekanan udara yang sangat tinggi.
Kemudian bertiuplah angin kuat yang berkembang menjadi badai. Kapal
diombang-ambingkan oleh getaran laut dan gelombang tinggi. Ada
saat-saatnya Loudon terancam akan terbalik oleh luapan air yang datang
dari samping. Apa saja yang tak terikat kuat dilemparkan ke laut…”
Api Santo Elmo
“Tujuh kali berturut-turut halilintar menghantam tiang utama. Dengan
rentetan letupan yang gemeretak, geledek itu kadang-kadang seperti
bergantungan di atas kapal yang diterangi cahaya mengerikan. Alat
pemadam kebakaran disiapkan di geladak, sebab nakhoda khawatir setiap
waktu Loudon bisa terbakar.”
“Kecuali halilintar, kami juga menyaksikan gejala alam aneh lain, yakni
apa yang disebut sebagai api Santo Elmo. Di atas tiang kapal
berkali-kali terlihat nyala api kecil-kecil berwarna biru. Kelasi-kelasi
pribumi mendaki tiang untuk memadamkan ‘api’ itu, tetapi sebelum mereka
sampai ke atas gejala itu telah lenyap kemudian terlihat berpindah ke
tempat lain. Api biru yang berpindah-pindah itu sungguh merupakan
pemandangan yang menyeramkan dan membangunkan bulu kuduk.”
“Antara badai dan ombak besar kami mengalami saat-saat tenang. Tiba-tiba
saja semuanya menjadi sunyi senyap dan lautpun licin seperti kaca.
Tetapi sepi yang tak wajar ini lebih mencekam daripada gegap gempita
ombak dan topan yang harus kami alami. Tak terdengar suara lain, kecuali
keluh kesah dan doa para penumpang Indonesia di geladak depan, yang
yakin bahwa ajal
mereka segera akan sampai.”
“Akhirnya pada malam menjelang tanggal 28 kami melihat sekelumit cahaya
membersit dilangit! Seberkas sinar bulan pucat berhasil menembus awan
gelap. Ketika itu sekitar pukul empat pagi. Di kapal orang
bersorak-sorai gembira dengan rasa syukur dan lega.”
“Memang masih ada batu apung dan abu turun ke geladak, tetapi paling
tidak kami bisa melihat sekelilingnya dengan agak jelas. Kami masih
berlayar menyusuri pantai Sumatra. Nampaknya pantai sangat sunyi. Yang
dulunya ditumbuhi pohon-pohon kini hanya tersisa tunggul bekas batangnya
yang patah. Laut penuh dengan kayu dan batu apung, yang di pelbagai
tempat mengumpul menjadi semacam pulau besar yang menutupi jalan masuk
ke Teluk Lampung.”
“Tampang kapal Loudon benar-benar mengejutkan. Ia lebih mirip kapal yang
tenggelam sepuluh tahun di dasar laut dan baru diangkat kembali. Kami
melayari Selat Sunda dan pagi-pagi sekali Krakatau nampak kembali.
Sekarang kami baru mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Seluruh pulau
itu meledak sampai hancur lebur dan sebagian besar hilang. Dinding
kawahnya sama sekali runtuh, kami hanya melihat celah-celah raksasa yang
mengeluarkan asap dan uap.”
“Di laut, antara Pulau Sebesi dan Pulau Krakatau yang tadinya masih
merupakan jalur pelayaran, kini bermunculan pulau-pulau vulkanik kecil
dan berpuluh gosong arang timbul dari permukaan air. Pada delapan tempat
tampak asap dikelilingi uap putih dari laut.”
“Dengan lambat kami mendekati pantai Jawa. Pemandangan yang terlihat
hampir tak terperikan. Segalanya telah diratakan menjadi gurun tak
bertuan. Waktu kami berlabuh di Teluk Anyer, kami baru menyadari bahwa
pelabuhan kecil itu sudah tidak ada lagi. Semuanya telah tersapu bersih,
tiada rumah, tiada semak, bahkan tak ada batu yang kelihatan! Hanya
sebuah tonggak masih menandai bekas tempat berdirinya mercusuar.
Selebihnya tidak ada apa-apa lagi, kehampaan dan kesepian…”
“Yang dulunya merupakan kampung-kampung yang makmur, kini hanya hamparan
lumpur kelabu. Sungai penuh dengan puing dan lumpur. Di mana-mana tak
nampak tanda-tanda kehidupan…”
“Pulau-pulau di Selat Sunda juga tak luput dari musibah. Pulau Sebesi
yang pernah dihuni dua ribu orang, kini hanya tinggal seonggok bukit
abu, sampai puncaknya yang hampir lima ratus meter tingginya itu, dan
semua tumbuh-tumbuhan tak berbekas. Tak terlihat perahu atau desa lagi.
Demikian pula keadaan pulau-pulau lain, Pulau Sebuku dan Pulau
Sangiang.”
Hujan Lumpur
“Pada tanggal 29 Agustus kami kembali di Lautan Hindia. Makin ke utara,
makin kurang kelihatan akibat malapetaka besar itu. Kemudian di Padang
dan beberapa tempat lainnya kami bertemu dengan orang-orang yang
mendengar ledakan-ledakan dan gemuruh Krakatau. Yang aneh ialah bahwa
kami yang berada di tempat yang paling dekat dengan Krakatau, tidak
mendengar dentuman-dentuman itu.”
Itulah kisah seorang penumpang kapal yang melihat malapetaka itu dari
jarak jauh. Dari kota Teluk Betung sendiri ada saksi mata yang selamat.
Menurut dia gelombang pasang yang pertama tiba tanggal 27 Agustus pagi
sekitar pukul setengah tujuh, yang merebahkan lampu pelabuhan, gudang
batu bara, gudang di dermaga, dan melemparkan kapal Barouw dari sisi
timur bendungan melewati pemecah gelombang sampai ke Kampung Cina.
Gudang Garam rusak dan Kampung Kangkung beserta beberapa kampung di
pantai lainnya dihanyutkan. Kapal pengangkut garam Marie terguling di
teluk, tetapi kemudian dapat tegak kembali. Orang juga melihat kapal
Loudon berlabuh, kemudian berlayar lagi pada pukul tujuh.
Langit berwarna kuning kemerah-merahan seperti tembaga, dari arah
Krakatau terlihat kilatan-kilatan api, hujan abu turun tiada hentinya,
tetapi sekitar pukul delapan keadaannya tenang. Sementara orang-orang
yang sempat mengungsi ke tempat yang tinggi waktu itu masih sempat
kembali ke rumah masing-masing untuk menyelamatkan apa saja yang masih
bisa diambil, atau
untuk melihat keadaan.
Kurang lebih pukul sepuluh tiba-tiba terdengar letusan hebat yang
membuat orang terpaku. Suatu pancaran cahaya dan kilat terlihat di arah
Krakatau. Segera setelah letusan itu hari mulai remang-remang. Kerikil
batu apung mulai bertaburan. Menjelang pukul sebelas hari gelap seperti
malam, hujan abu berubah menjadi hujan lumpur. Selanjutnya apa yang
tepatnya berlangsung, tiada yang tahu, karena yang selamat berlindung di
rumah residen dan hanya mendengar deru dan gemuruh sepanjang malam yang
disebabkan oleh angin topan yang mematahkan ranting, menumbangkan
kayu-kayuan, dan melemparkan lumpur pada kaca-kaca jendela. Para
pelarian itu tidak sadar bahwa gelombang pasang sebenarnya sudah
mendekati tempat pengungsiannya sejauh 50 m di kaki bukit.
Baru keesokan harinya orang mengetahui betapa besar kehancuran yang
terjadi. Seluruh dataran diratakan dengan tanah, tiada rumah maupun
pohon yang masih tegak. Yang ada hanya abu, lumpur, puing, kapal
ringsek, dan mayat manusia maupun hewan bertebaran di mana-mana. Kapal
Barouw sudah tak terlihat lagi. Baru kemudian kapal yang naas itu
ditemukan di lembah Sungai Kuripan, di belakang belokan lembah pada
jarak 3.300 m dari tempat berlabuhnya, dan 2.600 m dari Pecinan,
tempatnya dicampakkan gelombang pertama pukul setengah tujuh itu.
Sejumlah perahu kandas di tepi lembah, sebuah rambu laut ditemukan di
lereng bukit pekuburan. Awak kapal Barouw,
mualim pertama Amt dan juru mesin Stolk hilang tak ketahuan rimbanya.
Bagian pantai Sumatra yang terjilat malapetaka Krakatau paling parah,
terutama adalah yang letaknya berhadapan dengan Selat Sunda. Misalnya
tempat-tempat di tepi Teluk Semangka.
Terjepit Dua Rumah
Seorang Belanda yang mengalami pribadi kedahsyatan letusan Krakatau dan
berhasil mempertahankan hidupnya adalah seorang controleur yang
ditempatkan di Beneawang, ibukota afdeling Semangka, yang letaknya di
Teluk Semangka, Lampung. PLC. Le Sueur, pejabat Belanda itu, melaporkan
kepada atasannya dalam sepucuk surat tertanggal 31 Agustus 1883 sebagai
berikut:
“Pada hari Minggu sore, menjelang pukul empat, sewaktu saya sedang
membaca di serambi belakang rumah saya, tiba-tiba saja terdengar
beberapa dentuman yang menyerupai letusan meriam. Saya mengira bahwa
residen yang menurut rencana akan tiba besok dengan kapal bersenjata
pemerintah telah mempercepat jadwal kunjungannya. Saya segera
mengumpulkan para kepala adat dan pejabat setempat ke pantai. Tetapi
kami tidak melihat ada kapal di laut. Saya segera kembali ke rumah.”
“Baru saja saya sampai di rumah, seorang pesuruh melaporkan bahwa air
laut mulai naik dan beberapa kampung di pantai sudah tergenang. Saya
segera berangkat lagi untuk menertibkan keadaan di antara rakyat yang
mulai panik dan memanggil-manggil nama Allah. Saya menyuruh mereka
membawa wanita dan anak-anak ke tempat-tempat yang letaknya lebih
tinggi. Kemudian air surut
lagi dengan cepat, tetapi mulai hujan abu.”
“Sekitar pukul empat pagi saya dibangunkan oleh orang-orang yang
memberitakan bahwa di kaki langit terlihat cahaya kemerah-merahan. Saya
merasa khawatir…”
“Pukul enam pagi, hari Senin, saya pergi ke pantai. Permukaan air laut
jauh lebih rendah dari biasanya. Sementara batu karang yang biasanya tak
nampak, kini menjadi kering. Selanjutnya saya mendengar guruh
sambung-menyambung, sehingga saya khawatir masih ada hal-hal yang lebih
mengerikan yang akan menimpa kami…”
“Setiba di rumah saya menyuruh memanggil Van Zuylen (pembantu saya)
untuk menulis rancangan surat kepada residen tentang apa yang terjadi.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat, tetapi cuaca begitu gelap
sehingga lampu-lampu masih menyala. Sejurus kemudian kata Van Zuylen:
‘Maaf tuan, untuk sementara saya berhenti menulis saja. Saya merasa
gelisah.’”
“Baru saja ia mengatakan itu, tiba-tiba kami mendengar ribut-ribut.
Laki-laki, perempuan, dan anak-anak berlarian sambil berteriak: ‘Banjir!
Banjir!’. Van Zuylen dan saya segera keluar dan menawari orang-orang itu
agar berlindung di rumah saya saja, karena rumah saya terletak di
tempat yang agak tinggi dan dibangun di atas tiang. Tetapi tak lama
kemudian air pasang kembali ke laut sehingga semuanya tenang kembali…”
“Ketenangan itu tak berlangsung lama: Sejurus kemudian air laut kembali
lagi dengan debur dan gemuruh yang menakutkan. Di rumah saya saat itu
sudah ada sekitar tiga ratus orang pengungsi. Saya mondar-mandir di
antara mereka untuk agak menenangkan mereka. Tiba-tiba saya mendengar
serambi depan runtuh dan air segera menerjang ke dalam rumah. Saya
menganjurkan mereka untuk pindah ke serambi belakang. Baru saja saya
mengatakan itu, tiba-tiba seluruh rumah roboh berantakan dan kami
semuanya terseret oleh arus air.”
“Setelah itu saya tak tahu lagi apa yang terjadi. Saya berhasil meraih
sekerat papan dan mengapung mengikuti aliran air, sampai kaki saya
tersangkut sesuatu sehingga papan itu harus saya lepaskan. Setelah itu
saya berhasil menggapai beberapa keping atap. Saya berpegangan erat-erat
sampai air kembali ke laut dan kaki saya menginjak tanah. Saya
menggunakan jas saya untuk melindungi kepala dari hujan lumpur.”
“Di kejauhan saya mendengar suara minta tolong dari laki-laki,
perempuan, dan anak-anak, tetapi saya tak berdaya menolong. Saya tak
bisa berdiri karena lemas, takut, dan terkejut, lagi pula tak terlihat
apa-apa sebab gelap. Saya mendengar air datang lagi dengan kuatnya. Saya
hanya bisa berdoa sejenak memohon penyelamatan nyawa kami semua sambil
menyiapkan diri untuk menghadapi maut. Lalu saya dihanyutkan oleh air,
diputarkan, lalu dicampakkan dengan kekuatan dahsyat. Saya terjepit di
antara dua rumah yang mengapung. Saya tak bisa bernapas lagi rasanya.
Saya mengira bahwa ajal saya sudah sampai. Tetapi tiba-tiba kedua rumah
itu terpisah lagi. Kemudian
Saya mendapat batang pisang yang tak saya lepaskan lagi…”
“Dengan batang pisang itu saya mengapung beberapa lama, berapa lama
tepatnya saya tak tahu lagi. Waktu air surut, saya terduduk saja,
barangkali sejam lamanya saya di situ tanpa bergerak. Di sekitar saya masih gelap gulita dan hujan lumpur berlangsung terus.”
Kontrolir Berteriak Minta Tolong
“Akhirnya Saya mendengar suara-suara manusia di dekat tempat itu. Saya
memanggil, bangkit, lalu mulai berjalan tertatih-tatih dengan mata
tertutup lumpur sambil meraba-raba jalan saya. Semua pakaian saya,
kecuali baju kain flanel, telah tercabikkan dari badan saya. Saya
berjalan dalam keadaan kedinginan di bawah hujan lumpur, tetapi tidak
berhasil menemukan orang-orang yang saya dengar suaranya itu.”
“Saya menginjak semak-semak berduri dan kulit saya tercabik oleh duri
rotan, sedang saya lebih banyak jatuh bangun daripada berjalan. Akhirnya
saya mendengar ada orang berkata dalam bahasa Lampung: ‘Kita tak jauh
dari sungai besar.’ Saya mempercepat jalan saya sedapatnya, menyapu
lumpur dari mata saya lalu bergegas menuju ke arah suara tadi. Saya
bertemu seorang Jawa, seorang Palembang, dan beberapa wanita Jawa.”
“Tak lama kemudian kami melihat cahaya obor dari jauh. Tanpa berhenti
saya berteriak: ‘Tolong! Tolong! Saya kontrolir!’ Tetapi agaknya pembawa
obor itu tak mendengar suara saya. Beberapa kali kami melihat cahaya
itu, tapi kemudian menghilang di dalam kegelapan. Ketika itu semestinya
sudah pukul delapan atau sembilan pagi, tetapi masih gelap gulita…”
“Akhirnya ada juga seorang pembawa obor yang datang mendapatkan kami.
Saya katakan kepadanya siapa saya, lalu ia mengantarkan saya melewati
hutan semak berduri dan mengarungi lumpur ke Kampung Kasugihan, kemudian
diteruskan ke Penanggungan. Hari sudah pukul delapan malam waktu kami
tiba di sana. Di kampung ini saya baru beristirahat sejam ketika kami
mendengar gemuruh air, sehingga tempat ini juga masih belum aman. Kami
melarikan diri lagi ke arah pegunungan. Setelah dua jam berjalan kami
mencapai desa Payung yang terletak di lereng Gunung Tanggamus. Di tempat
ini ada yang memberi saya sehelai sarung, sehingga saya berpakaian agak
pantas.”
“Mujur bahwa saya mendapat sambutan baik dari kepala desa maupun
rakyatnya, sehingga setiap hari saya bisa makan nasi dengan lauk ayam.
Pada hari Selasa saya menyuruh orang untuk menyelidiki siapa-siapa yang
masih hidup dari tempat-tempat di pantai. Hasilnya amat menyedihkan.
Hampir seluruh Beneawang musnah. Saya perkirakan korban jiwa di daerah
ini ada sekitar seribu orang. Banyak kampung lenyap. Di banyak desa
terjadi kelaparan.”
“Mohon dikirim beberapa potong pakaian, sebab saya tak mempunyai apa-apa lagi, juga sepatu dan selop.”
Hujan Batu Apung Membara dan Abu Panas
Menurut laporan resmi, di Beneawang sekitar 250 orang meninggal,
termasuk hampir semua pemuka adat daerah itu yang berkumpul untuk
menyambut kedatangan Residen. Termasuk Van Zulyen, klerk griffier
pembantu Le Sueur, satu-satunya orang Belanda yang tewas.
Kampung-kampung di sebelah barat dan timur Teluk Semangka mengalami
penghancuran total atau sebagian; di Tanjungan dan di Tanjung Beringin
yang terletak di dekatnya, 327 orang dinyatakan hilang, di Betung yang
berdekatan, 244 orang.
Dari Ketimbang di pantai Teluk Lampung kita ikuti kisah kontrolir
Beyerink yang lebih mengenaskan, karena ia pribadi kehilangan seorang
anggota keluarganya dalam malapetaka itu.
“Pada Minggu sore, tanggal 26 Agustus itu distrik kami ditimpa hujan abu
dan batu apung yang membara. Rakyat melarikan diri dalam suasana panik.
Abu yang jatuh itu begitu panasnya, sehingga hampir semua orang
menderita luka bakar pada muka, tangan, dan kaki. Di antara penduduk
yang berjumlah kurang lebih tiga ribu orang yang mengungsi bersama saya
ke daerah yang lebih tinggi, paling sedikit ada seribu orang yang
meninggal karena luka bakar. Seorang di antara anak saya juga ikut
meninggal. Kami terpaksa memakamkannya dalam abu.”
Antar pukul sembilan dan sepuluh malam air mulai menggenangi rumah
kontrolir. Ini merupakan dorongan kuat bagi Beyerink untuk mengajak
keluarganya yang terdiri atas istrinya dan kedua anaknya yang masih
kecil memgungsi ke Kampung Umbul Balak di lereng Gunung Rajabasa.
Semalam-malaman turun hujan kerikil dan abu, hari Minggunya sampai pukul
sebelas hujan deras, paginya antara pukul sembilan dan sepuluh jatuh
kepingan-kepingan batu apung, ada yang sebesar kepala. Ledakan-ledakan
sudah terdengar terus-menerus sejak hari Minggu dan sejak hari Senin
tercium bau belerang.
Gelegar letusan terhebat terdengar sekitar pukul sepuluh, disusul segera
oleh kegelapan total. Tak lama kemudian mulai turun abu panas, yang
rasanya sangat nyeri saat mengenai kulit. Ini berlangsung kira-kira
seperempat jam, mungkin lebih lama, disertai uap belerang yang
menyesakkan napas.
Sesudah itu turun hujan lumpur, yang melekat pada tubuh seperti lem,
tetapi lebih mending daripada abu panas yang mengakibatkan luka-luka
bakar. Lumpur dan abu silih berganti berjatuhan semalam suntuk, mungkin
juga sampai Selasa pagi.
Selama lima hari Beyerink dengan keluarganya menderita di bawah tempat
berteduh yang sederhana, dikelilingi sejumlah besar rakyat yang ikut
melarikan diri ke tempat itu. Mereka semuanya sangat menderita, terutama
oleh luka-luka bakar yang tak diobati. Anak terkecil keluarga Beyerink
akhirnya meninggal karena luka-lukanya dan keadaan yang menyedihkan itu.
Akhirnya mereka dibebaskan oleh kapal bargas Kedirie yang pada Sabtu
pagi, tanggal 31 Agustus membuang sauh di Teluk Kalianda. Nakhoda kapal
beserta beberapa anak buahnya melakukan peninjauan ke darat. Mereka
mendengar bahwa kontrolir dan keluarganya mengungsi di Umbul Balak.
Mereka bergegas menjemputnya. Dengan bantuan tandu keluarga yang malang
itu akhirnya dapat dibawa ke pantai dan hari itu juga Kedirie bertolak
ke Jakarta.
Tersangkut Di Pohon
Kapal bargas Kedirie menyelamatkan sejumlah korban, di antaranya seorang
kakek yang berumur sekitar enam puluh tahun, bernama Kimas Gemilang,
yang kemudian dirawat di rumah sakit umum di Jakarta. Dalam sebuah
wawancara dengan harian berbahasa Belanda ia mengisahkan pengalamannya
sebagai berikut:
“Pada hari Senin pagi, sekitar pukul enam, saya menuju ke pantai, tak
jauh dari rumah saya di Ketimbang. Saya melihat permukaan air laut
sangat tinggi, jauh lebih tinggi daripada sehari-hari, tetapi saya tidak
melihat gelombang atau hal lain yang mencurigakan. Sekitar sepuluh
menit kemudian, saya melihat air menggulung dari kejauhan, warnanya
hitam dan tingginya menyerupai gunung. Saya hendak melarikan diri,
tetapi sudah tak keburu sebab air telah mencapai saya, sehingga saya
terseret.
Mujurnya, saya tersangkut pada batang pohon besar. Saya memanjat pohon
itu sampai ke puncaknya. Tak lama sesudah itu air menghilang sama
cepatnya seperti tibanya tadi. Setelah lewat lima menit gelombang pasang
itu datang kembali. Saya tetap bertengger di pohon, tak berani turun.
Sesudah lewat sekitar satu jam air pasang tak kembali lagi, barulah saya
perlahan-lahan merosot ke bawah. Tetapi saya tak mampu berjalan karena
cedera akibat hempasan gelombang tadi. Jadi saya duduk dan rebah di
bawah pohon penyelamat itu beberapa hari dan beberapa malam dalam
keadaan antara sadar dan tidak, seperti terbius, tanpa mengetahui apa
yang terjadi di sekeliling saya.
Tentu saja selama beberapa hari itu saya tidak makan dan minum sampai
suatu pagi, saya sudah tak tahu lagi hari apa, ada seorang Cina
menghampiri saya, lalu mengangkat saya ke perahunya. Di tengah laut kami
ditolong oleh sebuah kapal api yang membawa saya kemari.”
Demikianlah kisah beberapa saksi mata yang mengalami secara pribadi
malapetaka Krakatau itu. Para pengamat waktu itu setelah mengumpulkan
data yang diperoleh, menyimpulkan bahwa letusan Krakatau bulan Agustus
1883 itu tidak disertai atau didahului oleh gempa kuat. Di beberapa
tempat memang terasa guncangan ringan.
Bulan dan Matahari Berwarna-Warni
Yang meminta korban jiwa maupun kerusakan paling berat adalah air pasang
yang melanda pantai-pantai yang berbatasan dengan Selat Sunda dan utara
Pulau Jawa. Hanya sebagian kecil korban diakibatkan oleh abu panas,
sedang awan panas dan gas beracun tak tercatat. Dari laporan-laporan
ternyata bahwa gelombang pasang itu terjadi tiga kali, yang pertama pada
hari Minggu pukul 18.000, pada hari Senin sekitar pukul 06.30, dan
pukul 10.30. Gelombang yang terakhir adalah yang terbesar, yang
menyebabkan kerusakan paling banyak. Penghancuran Teluk Betung dan
Caringin terutama diakibatkan oleh gelombang yang terakhir itu.
Setelah aktif selama 121 hari sejak bulan Mei dan puncak ledakan tanggal
28 Agustus itu akhirnya semuanya menjadi tenang kembali. Krakatau
lenyap seperti ditelan bumi; hampir seluruh belahan utara pulau itu
hilang. Yang tinggal hanya bebatuan sepanjang 813 meter. Gunung berapi
Danan dan Perbuatan juga gaib, dan di tempat itu terbentuk kaldera
raksasa yang berdiameter 7,4 km.
Abu halus yang dilontarkan ke angkasa ditiup ke arah barat oleh angin
dan keliling dunia dengan kecepatan 121 km tiap jamnya. Setelah enam
minggu, dalam bulan Oktober 1883 suatu sabuk debu dan abu halus menyebar
sekitar bumi. Hanya dua hari setelah letusan abu halus itu sudah
meliputi benua Afrika dan lima belas hari kemudian telah mengitari bumi,
mengkibatkan suatu kabut di seluruh daerah khatulistiwa yang menyebar
sedikit demi sedikit. Pada tanggal 30 Nopember kabut itu mencapai
Eslandia. Kabut itu menyebabkan pelbagai dampak optik, termasuk senja
kala yang gilang-gemilang, matahari dan bulan berwarna, dan munculnya
corona. Di banyak tempat di dunia terlihat matahari atau bulan berwarna
merah jambu, hijau, biru. Enam bulan setelah letusan Krakatau, penduduk
Missouri di Amerika Serikat melihat matahari kuning dengan latar
belakang langit hijau.
Sebuah majalah populer Belanda memberi judul karangan tentang letusan
Krakatau “Lebih hebat dari bom atom.” Ledakan bom atom bukan apa-apa
dibandingkan dengan letusan Krakatau. Bom atom pertama yang diledakkan
sebagai percobaan di dekat Los Alamos pada tanggal 16 Juni 1945
memancarkan energi sebesar 0,019 Megaton, sedangkan ledakan Krakatau
diperkirakan sebesar 410 megaton!
Kekuatan letusan itu setara dengan 21.428 bom atom. Sedangkan korban
jiwa yang direnggutnya oleh gelombang pasang merupakan yang tertinggi
yang pernah tercatat sampai hari ini. Ini belum terhitung korban tidak
langsung yang meninggal oleh penyakit dan kelaparan yang terjadi
kemudian.
Di edit dari: http://rovicky.wordpress.com/
Jadi ingat, betapa kecilnya kita di bumi ini. Setiap saat kita terancam
yang namanya bencana alam. Jika kita tinggal dekat gunung, setiap saat
meletus, dekat pantai setiap saat tsunami terjadi. Dekat sungai banjir
banding tiba-tiba dating tanpa permisi.
Kita hanya bias pasrah, hanya amal iman serta ketaqwaan kita pada
pencipta yang dapat membuat kita tenang hidup di dunia ini. Kalau kita
selalu was- was kita takkan hidup tenang di bumi ini. Kalau kita terlalu
larut dalam urusan dunia, kita juga takkan punya persiapan dalam
menghadap sang pencipta.
Semoga kita dapat renungkan bersama.